Korban banjir di Kota Jayapura, membutuhkan pakaian layak pakai. Pasalnya, pakaian mereka terendam banjir. Pasalnya, pakaian mereka terendam banjir. "Barang-barang mereka terendam banjir dan tidak bisa dicuci kembali," kata Ketua Tim Tanggap Darurat Bencana Alam Kota Jayapura Rustan Saru, melansir Antara, Senin (10/1/2022).
cash. Gempa 5,6 skala Richter yang berpusat di Cianjur, Jawa Barat, pada 21 November menimbulkan lebih dari seratus korban jiwa. Korban mengungsi lebih banyak lagi, melampaui 13 ribu jiwa. Bencana ini memanggil para pegiat kemanusiaan untuk bergerak menggalang donasi uang maupun barang-barang, salah satunya adalah pakaian bekas. Aksi cepat warga yang menggalang donasi ataupun memberikan sumbangan patut diacungkan jempol. Namun, langkah kita berdonasi – khususnya berbagi pakaian bekas – mesti hati-hati. Sebab, niat baik ini bisa menjadi masalah baru bagi lingkungan maupun penyintas bencana jika tidak dilakukan secara bijak. Tulisan ini akan mengulas bagaimana hal tersebut mungkin saja terjadi. Pentingnya pemilahan pakaian bekas Donasi pakaian dapat menjadi masalah baru ketika pakaian tidak dipilah saat didonasikan. Proses ini menjadi krusial karena tidak semua pakaian dapat digunakan dan dalam keadaan layak. Misalnya, pakaian yang berjamur, robek, hingga berlubang. Donasi pakaian tidak melalui pemilahan justru dapat menambah jumlah sampah di Tempat Pembuangan Akhir TPA, bahkan teronggok begitu saja di sekitar lokasi bencana. Warga penyintas tsunami Palu berburu pakaian bekas. Antara Beberapa kejadian bencana menjadi contoh bagaimana niat baik kemudian berubah menjadi masalah di posko bantuan. Misalnya, penumpukan pakaian bekas di posko bantuan banjir bandang di Sukabumi pada tahun 2020, banjir bandang di Jember pada tahun 2021, dan bencana erupsi Gunung Semeru tahun 2021. Tumpukan pakaian ini menjadi masalah baru dan menambah beban kerja bagi relawan posko. Saya juga sempat mewawancarai salah satu kelompok masyarakat marginal di kota Semarang yang sering menerima donasi pakaian. Mereka justru mengeluhkan tumpukan pakaian hasil donasi yang tidak digunakan sehingga menambah sesak gudang. Karena tertimbun terlalu lama, pakaian menjadi lembap dan berjamur. Mereka akhirnya terpaksa membakar pakaian-pakaian bekas itu. Tentunya ini menjadi masalah lingkungan baru. Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB juga menyoroti dampak donasi pakaian bekas. Mereka menyampaikan kepada masyarakat untuk berdonasi pakaian kepada korban bencana hanya jika diminta oleh penanggung jawab posko bantuan. Sebelum menggalang donasi ataupun menyumbangkan barang, penting bagi publik untuk melihat kebutuhan dalam situasi bencana. Pasalnya, prioritas bantuan untuk memenuhi kebutuhan penyintas bencana tentunya berbeda-beda. Misalnya, saat gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat pada 2018, para penyintas laki-laki akhirnya mengenakan pakaian daster yang biasanya dipakai perempuan. Karena itulah, penting bagi calon donatur ataupun lembaga penerima donasi untuk memetakan kebutuhan pakaian di suatu lokasi bencana. Harapannya, donasi yang digelontorkan bisa lebih sesuai kebutuhan dan bermanfaat untuk para penyintas. Tak harus ke posko bencana Alasan kemanusiaan bukanlah satu-satunya pemicu kita untuk berdonasi pakaian. Terkadang, kita melakukannya untuk mengurangi tumpukan pakaian di lemari. Sejumlah imigran etnis Rohingya memilih pakaian layak pakai di Meunasah usai dievakuasi warga di Desa Lhok, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, Aceh. Rahmad/Antara Namun, patut diingat bahwa posko bencana bukanlah satu-satunya saluran untuk berdonasi. Kita bisa saja mengandalkan sistem donasi yang sudah ada. Beberapa organisasi atau komunitas di Indonesia menerima donasi pakaian masyarakat untuk disumbangkan kembali atau diolah. Misalnya Gombal Project, sebuah usaha sosial dari Yogyakarta untuk mengurangi limbah tekstil termasuk pakaian bekas. Mereka menerima donasi pakaian untuk diolah kembali menjadi produk yang dijual ke publik. Gerakan ini menerapkan sistem donasi terbatas, yakni membuka saluran penyumbangan pakaian bekas berdasarkan kebutuhan produk yang akan dibuat. Sistem ini membantu dalam menghindari terciptanya sampah baru dengan pakaian yang kemudian tidak dapat dikelola. Selain itu, sistem ini dapat mendorong gerakan pilah pakaian dari rumah untuk mendorong rasa tanggung jawab dari para donatur pakaian. Read more Mengapa kita mesti membela _thrift shop_ Selain Gombal Project, beberapa inisiatif lingkungan lain seperti Zero Waste Indonesia juga memulai gerakan tukarbaju. Caranya, warga dapat membawa pakaian yang sudah tidak dipakai untuk ditukarkan dengan pakaian dari peserta lain. Harapannya, upaya ini dapat menjadi gaya baru berdonasi sekaligus mendorong fesyen yang bertanggung jawab di masyarakat. Terlepas dari hal tersebut, Indonesia membutuhkan sistem donasi pakaian yang mapan. Artinya, sistem ini dapat menampung pakaian bekas setiap waktu dengan tujuan penyaluran yang beragam. Misalnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat marginal ataupun korban bencana, usaha pengolahan pakaian, ataupun langsung dijual kembali. Di samping itu, donatur wajib memilah pakaian bekas sebelum disumbangkan. Sistem ini penting untuk mengantisipasi kebutuhan pakaian bekas bagi penyintas bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Sarana penyaluran juga dibutuhkan untuk mengurangi timbunan limbah tekstil di Indonesia yang jumlahnya per 2021 sudah mencapai 2 juta ton.
Perkara banjir kerap mengiringi datangnya musim penghujan di Indonesia. Bencana ini, tak jarang pula mengundang keprihatinan karena banyaknya korban yang membutuhkan uluran bantuan baik berupa uang, pakaian, dan beberapa keperluan lainnya. Tapi, ketika ingin turut membantu, jangan asal menyumbang. Pertimbangkan hal-hal berikut agar barang-barang yang disumbangkan tidak menjadi mubazir. Kondisi pakaian Kondisi pakaian yang akan diberikan kepada korban banjir harus benar-benar telah melewati pertimbangan apakah baju-baju tersebut masih layak digunakan, atau tidak. Periksa kembali pakaian tersebut apakah terdapat robekan pada pakaian atau kancing yang sudah tidak lengkap. Perlengkapan bayi Kadang perlengkapan bayi luput dari list prioritas bantuan untuk korban bencana. Padahal, perlengkapan ini sangat penting untuk pada para ibu yang memiliki bayi. Para ibu korban banjir biasanya sangat membutuhkan popok, dot, pakaian bayi, dan camilan untuk anak-anak di pengungsian. Camilan sehat Donasi makanan untuk korban banjir biasanya hanya menghasilkan tumpukan mi instan yang mungkin sangat membosankan bagi para korban. Cobalah salurkan camilan sehat. Selain mengurangi kebosanan, uluran bantuan ini akan membantu memberikan suplemen yang baik di saat kondisi yang serba terbatas. Obat-obatan darurat Dalam keadaan darurat memerlukan banyak hal-hal yang diperlukan secara mendadak. Contohnya, obat-obatan untuk penanganan pertama seperti perban, pereda luka, minyak angin, vitamin, dan sejenisnya. Bantuan berupa obat-obatan sangat dibutuhkan terlebih cuaca yang tiba-tiba berubah dan kondisi tenda pengungsian yang biasanya tidak tertutup. Kantung tidur Kantung tidur biasa dipakai saat berwisata di gunung. Akan tetapi, kantung tidur juga dibutuhkan bagi para pengungsi untuk menjaga badan tetap hangat pada malam hari. Terutama untuk para bayi dan anak-anak. SBH
Jakarta - Ibu-ibu korban banjir di Kampung Pulo, Jakarta Timur, mengaku hingga kini belum mendapat bantuan yang bentuknya seperti pakaian dan peralatan sekolah anak-anak. Mereka meminta pemerintah segera memberi bantuan baju sekolah ke anak-anak yang akan bersekolah pada Senin mendatang. Salah satu warga pengungsi itu adalah Asiah, warga RT 14 RW 3 di Kampung Pulo, Jakarta Timur. Asiah mengatakan pakaian dan peralatan sekolah anaknya telah hilang terbawa arus saat banjir kemarin. "Baju sekolah nggak ada yang bisa diselamatkan, semuanya habis. Sepatu juga, kayak tas juga, buku juga, peralatan sekolah lah. Nggak tahu deh besok gimana ini anak-anak sekolah," ujar Asiah saat ditemui di lokasi, Jumat 3/1/2020. Senada dengan Asiah, Eti 45, yang juga merupakan warga RT 13 RW 2 mengatakan pakaian dan peralatan sekolah anaknya tidak tersisa satupun. Eti mengaku bingung memikirkan pakaian sekolah untuk anaknya nanti."Baju sekolah kaya buku, tas, sepatu nggak ada yang bisa diselamatin. Anak saya pakaiannya pakai baju bebas aja kali, besok," ujar Asiah maupun Eti berharap pemerintah segera mengirimkan bantuan berupa pakaian sekolah anak. Mereka pun menginginkan tambahan bantuan berupa peralatan sekolah anak yang mendukung proses belajar."Minta bantuan lah ke pemerintah untuk baju-baju anak nih kan mau pada sekolah," kata Asiah."Buku-buku, sepatu, tas juga tolonglah dikasih bantuan ke warga," sahut diketahui, banjir melanda kawasan Jabodetabek sejak Rabu 1/1/2020. Beberapa wilayah di Jabodetabek terendam air sehingga banyak warga mengungsi dan pemerintah, baik daerah maupun pusat, telah menyediakan posko untuk melayani keperluan para pengungsi korban juga Pasutri Tewas Akibat Kebakaran di Kampung Pulo [GambasVideo 20detik] zap/zap
ibu menyumbangkan 40 pakaian kepada korban banjir